Tips Menulis Untuk Keabadian dari Arif Gumantia

Tips Menulis Untuk Keabadian dari Arif Gumantia

288
0
SHARE

Jika umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan.

– Pramoedya Ananta Toer

Menulis adalah bekerja untuk keabadian, mengabadikan pikiran, perasaan, kegelisahan, peristiwa, dan mengabadikan kenangan. Sebenarnya setiap orang bisa menjadi penulis, kalau punya niat dan kemauan, disertai usaha yang tekun untuk berlatih menulis. Apalagi kalau kita lihat maraknya opini yang ditulis di status media sosial. Itu bisa digunakan sebagai sarana latihan menulis. Setelah itu bisa diarsipkan di blog pribadi atau dikirim ke media, baik Media Massa cetak maupun Media Online, setelah terkumpul bisa diterbitkan menjadi buku.

Menulis menjadi gampang jika:
1. Ada niat dan kemauan
2. Memiliki pengetahuan
3. Memiliki wawasan

Menulis adalah bagian dari kegiatan keterampilan jadi bukan tergantung bakat. Kegiatan keterampilan sangat bergantung pada latihan yang terus menerus dan berkelanjutan (kontinuitas).

Latihan pertama adalah dengan menjadikan membaca sebagai kebutuhan kita. Baik membaca koran, majalah, media online, dan membaca buku, membaca kehidupan, membaca pengalaman, baik pengalaman diri sendiri, maupun orang lain. Juga membaca diri sendiri, kekurangan dan kelebihannya.

Latihan kedua adalah menulis, menulis, dan menulis. Sebagai bagian dari santapan rohani keseharian kita, karena dengan menulis akan bisa mendatangkan kenikmatan spiritual, kebanggaan, dan percaya diri secara wajar, dan juga keuntungan material.

Kegunaan dari membaca dan latihan menulis :

1. Mahir mempermainkan kata (penempatan kata dan kalimat)
2. Piawai merangkainya, dalam deretan-deretan kalimat
3. Cerdas dalam menyampaikan pesan yang ingin disampaikan.

Langkah-langkah dalam latihan menulis:

1. Menulislah apa yang ada di benak kita, yang sesuai keinginan kita, sesuai dengan wawasan dan pengetahuan yang kita miliki.
2. Mengevaluasi hasil tulisan dengan mengurutkan masalah yang hendak diungkapkan, hal-hal yang menjadi benang merah, bagian mana yang bisa dikembangkan, dan dibuang. Manfaatkan kamus dan tesaurus untuk meyakinkan istilah-istilah yang kita singgung. Juga untuk melakukan pemilihan kata yang tepat dan menarik, untuk membangkitkan daya imajinasi dan kontemplasi pembaca. Juga untuk meyakinkan kita tidak ada kesalahan ketik, ejaan, tanda baca sebelum kita rilis atau kirim ke media.

Tentu diperlukan belajar yang tekun tentang teori-teori menulis. Baik menulis puisi, cerita pendek, novel, esai, opini ilmiah, dan lain-lainnya. Misal saat ingin berlatih menulis puisi tentu kita harus paham teori tentang puisi, tentang kecerdasan puitik (sebagaimana yang pernah saya tulis di artikel “kecerdasan Puitik” sebelumnya).

Begitu juga jika ingin menulis cerpen. Agar cerpen bisa memenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi seperti adanya unsur estetika atau keindahan dan unsur-unsur yang menyusunnya secara teoritis. Baik deskripsi latar, tema atau gagasan, penokohan, dan inovasi gaya penceritaan. Yaitu adanya cerita yang dikisahkan secara pendek dan ringkas. Artinya kita harus menyampaikan sebuah tema atau gagasan atau peristiwa dengan cara di ceritakan atau dikisahkan. Tema dan peristiwa apa saja yang ada di sekitar kita. Tema biasa dengan penggarapan yang matang niscaya akan menghasilkan peristiwa luar biasa.

Untuk sampai pada kisah yang luar biasa ini pertimbangan kepadatan, kelugasan, kehematan, dan kedalaman itulah yang menjadi syarat yang harus dipenuhi. Kepadatan akan membuat penulis harus membuang peristiwa yang tak penting dan berkreasi dengan menyingkirkan narasi atau kalimat yang tak berhubungan langsung dengan tema. Demikian juga dalam dialog-dialognya.

Sedangkan jika menulis novel, kita perlu memerhatikan seperti apa yang disampaikan Milan Kundera. Novel adalah sepotong prosa sintesis yang panjang dan didasarkan pada permainan dengan tokoh-tokoh yang diciptakan. Prosa”sintesis” sebagai keinginan novelis utk memahami subyeknya dari segala sisi dan dalam kelengkapannya yang paling penuh. Kekuatan sintesis menyatukan “esai ironis, narasi novelistis, penggalan otobiografis, kenyataan historis, aliran fantasi” menjadi kesatuan tunggal. hingga kekuatan sintesis novel ini sanggup mengkombinasikan segala hal ke dalam kesatuan tunggal seperti bebunyian dari musik polifonis. Kesatuan novel tidak harus berasal dari plot, tapi bisa disediakan oleh tema.

Dalam latihan menulis esai tentu kita harus banyak membaca tentang tema atau gagasan yang ingin disampaikan. Mempersiapkan referensi yang mendukung ide dan tema tersebut. Untuk menjadi esai yang menarik selain menguasai tema yang akan dibahas, juga gaya penulisannya memenuhi unsur estetika bahasa. Dengan demikian perlu bacaan-bacaan dari berbagai disiplin ilmu terutama Sastra dan filsafat.

Beberapa esai yang sering kita jumpai di media adalah :

1. Tajuk rencana
2. Opini atau artikel : politik, ekonomi, sosial, olahraga, filsafat, sastram seni, budaya, pariwisata, dll.
3. Resensi atau review buku

Salah satu cara latihan menulis Esai adalah dengan meresensi buku yang kita baca, menuliskan pendapat kita tentang buku yang kita baca.

Ini tips Langkah praktis dalam menulis Resensi :

1. Cermati daftar isi (kalau ada)
2. Baca dengan seksama kata pengantar
3. Baca dengan kritis, tandai bagian-bagian yang penting (kekurangan dan kelebihan buku)
4. Cermati bagian kesimpulan (non fiksi) atau ending (fiksi)
5. Pelajari bagian lampiran.
6. Pahami wacana (diskursus) buku dan pesan yang hendak disampaikan penulis.
7. Tulis berdasarkan pemahaman kita sendiri.
8. Kutip bagian-bagian yang penting untuk mendukung pernyataan atau uraian kita.

Manfaat Menulis:

1. Sebagai sebuah kegiatan intelektual dan spiritual. Pada saat kita berada dalam proses penulisan, pada saat itulah pikiran dan intelektualnya bekerja yang bermuara pada kenikmatan spiritual.

2. Hasil tulisan bisa dibaca di mana saja dan kapan saja. Tidak terbatas ruang dan waktu, hingga bisa dibaca begitu banyak orang dengan wilayah yang begitu luas dan waktu yang begitu panjang, dan mendatangkan manfaat bagi orang banyak.

3. Membiasakan berpikir secara teratur, runut, dan sistematik.

4. Seorang penulis cenderung dipandang sebagai orang yang sedikit banyak mempunyai wawasan.

5. Membangun hubungan silaturahmi (menciptakan jaringan komunikasi) dengan Pembaca

Mari kita mulai menulis, mari kita menumbuhkembangkan budaya literasi, agar peradaban kita semakin maju.

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY